Sabtu, 04 Januari 2025

Mempercantik halaman belakang

Bulan lalu, dapat ide untuk mempercantik teras belakang dengan menambahkan teras kecil buat duduk- duduk. Ada space kosong dibelakang rumah sekitar 3,5 meter dengan lebar 7 meter. Sebelumnya, kita mengisi halaman belakang dengan rumput sintetis dibagian barat dan batu refleksi dibagian timur.


Seiring waktu, bagian batu refleksi jarang ku injak. Niat hati ingin olahraga namun apadaya tidak nyaman menginjaknya. Lelah sebelum memulai. Akhirnya dimulailah proyek mengubah bagian batu refleksi menjadi teras outdoor yang nyaman untuk bersantai dan diberi atap agar tidak kehujanan. Niatnya sih nanti treatmill nya mau ditaro disana biar bisa olahraga outdoor sambil menghirup udara segar, memandang rumput hijau (walaupun sintetis) dan melihat pergerakan ikan hias lalu lalang di aquarium. Terasa menyegarkan. Itu niatnya, kenyataannya masih belum tahu. 


Ku kira mengubah halaman belakang menjadi teras kecil di pojok tidak memerlukan waktu lama, ternyata sudah tiga minggu berjalan, proyek ini belum selesai. Ada saja hal yang dirasa kurang hingga perlu dipercantik lagi. Hari ini tersisa beberapa pekerjaan yang sepertinya akan selesai hari ini. 


Dahulu, saat proses pembangunan rumah, aku tidak terlalu terbiat secara langsung karena masih tinggal di luar kota. Pencatatan keuangan, pengawasan tukang, dan semua perintilan kecil dikerjakan oleh mertua. Kali ini, kami sudah menghuni rumah ini. Semua pengawasan proyek kecil memperindah halaman belakang ini kulakukan sendiri. Alhasil, aku menyadari betapa melelahkannya mengawasi semua detail agar sesuai dengan keinginan. Dahulu, aku seringkali kesal saat pekerjaaan tukang tidak sesuai dengan instruksi, namun kini sepertinya aku agak sabar. Tetap ada salah paham antara apa yang kusampaikan dan apa yang dipahami tukang, jadi mau tidak mau tetap ada koreksi. Enaknya, karena aku mengawasi sendiri, jika ada pekerjaan yang kurang tepat daoat langsung di koreksi.


Pekerjaan yang terlihat mudah dan sederhana sebenarnya prosesnya tak sesederhana itu, banyak pekerjaan tak terlihat yang njelimet selain pekerjaan finishing yang perlu kehati-hatian dan kreatifitas seni agar indah dan menarik. Pekerjaan tiga minggu ini membuatku menyadari bahwa tidak semua yang terlihat mudah itu sesederhana kelihatannya. Lebih menghargai kontribusi orang lain yang mungkin terlihat sederhana tapi sebenarnya berperan penting walau tak terlihat. Aku belajar untuk lebih menghargai orang lain.


Sedayu, 4 Januari 2025

Kamis, 02 Januari 2025

River Tubing perdana 2025

Kemarin, 1 Januari 2025 dilalui dengan sukacita. Emosiku yang meledak-ledak ini gegara pelayanan yang menurutku kurang profesional untuk orang yang menjual jasa. Highlight-nya tentu river tubing, namun yang menyulut emosi itu pihak resto. Ada larangan membawa makanan dan minuman dari luar, namun pelayanan restonya amat sangat lama. Kami datang sebelum pukul 11, melakukan reservasi untuk kegatan river tubing terlebih dahulu. Saat hendak makan siang, kami kesulitan menemukan tempat duduk, beberapa tempat nampak kosong namun diisi oleh barang pengunjung lain. Ntah mereka sedang berkegiatan dimana namun tidak ada aktivitas makan disana. Akhirnya, kami menemukan spot tempat duduk yang mengarah ke sungai, semua meja untuk kelompok sudah terisi. Setidaknya masih dapat kursi lah.

Ternyata kami harus meminta menu sendiri, pokoknya disini pengunjung harus proaktif. Antri tiket sendiri, cari tempat duduk sendiri, cari menunya sendiri. Mungkin karena terlalu ramai, petugasnya tidak terlihat membantu mengarahkan. Saat itu waktu menunjukan pukul 11.30 masih ada dua setengah jam lagi sebelum kami mulai river tubing. Ternyata setelah mengisi menu, petugas yang menerima pesanan mengatakan bahwa pesanan kami baru bisa diproses jam 1 dan kemungkinan datang menjelang kami river tubing. 

Bukan pertama kalinya kami berkunjung ke tempat wisata, namun baru disini kami dilarang membawa makanan sendiri tapi pelayanan didalam sangat lambat. Iya, itu jam makan siang dan pengunjung ramai. Tapi pasti itu bukan keramaian pertama yang mereka hadapi kan? Apa setiap hari seperti itu? Pengunjung dipaksa menahan lapar berjam-jam padahal sudah berencana main di air. Bukankan akan berbahaya jika perut kosong?

Emosiku membuncah. Pihak resto tidak memberikan jalan keluar. Setidaknya, jika kita dilarang membeli dari luar, sediakan lah menu instan untuk mengganjal perut. Tentu aku tidak ingin berdebat jadi kutinggalkan resto tersebut dan memilih keluar area untuk mencari pedagang kaki lima atau warung apapun yang menjual makanan. Ada 2 anak dibawah umur yang harus diperhatikan. Jika untuk menyediakan makan saja, pihak resto butuh waktu 1,5 jam tentu tidak masuk akal. Antara manajemennya yang berantakan atau tenaganya yang kurang?

Untungnya kekesalan itu terbayar dengan banyaknya pedagang kaki lima diluar area. Walaupun harus makan dalam kondisi yang kurang nyaman tapi setidaknya anak-anak tidak kelaparan. Perut yang kenyang juga membuat emosik relatif stabil. Jadwal river tubing jam 2, namun kami sudah bersiap dari setengah dua. Kami terlalu bersemangat hingga tak sabar ingin merendam kaki di pinggir sungai. Tak lama, petugas memanggil kami untuk berkumpul. Ada pengarahan singkat dan dipanggil berkelompok untuk antri mengambil pelampung, helm, dan ban. Sepatu karet tidak diwajibkan. Hanya Ayah-nya anak-anak yang akhirnya memakai sepatu, kami tidak.

Perjalanan menyusuri sungai menggunakan ban ini mencapai 2km. Aku menikmati suasana dan sensasi yang dihasilkan dari putaran ban dan beberapa jeram yang dilalui, sambil tetap mengkhawatirkan anak-anak. Ada kekhawatiran setiap melewati jeram, yang walaupun kecil tapi aku takut adek atau kakak terjatuh dari ban-nya. Setelah selesai, kuamati keduanya. Tidak ada trauma ataupun kekhawatiran berlebih. Kakak sangat senang sampai ingin mengulangi kegiatan ini lagi. Adek yang diperjalanan seringkali tersangkut karena mungkin badannya yang ringan membuatnya sering kali mengarah ke tepi sungai, tampak konsentrasi dan tertantang untuk melewati semua jeram seperti yang lain. 

Kedua anakku, 8 dan 5 tahun ini. Masih terlalu kecil untuk mencoba olahraga yang ekstim tapi setidaknya diusia belia, mereka berani untuk river tubing sendiri tanpa dipangku dan tidak ada ketakutan mereka mencoba hal baru. Well, tidak terlalu baru sebenarnya karena 1,5 tahun lalu kita pernah karst tubing dan kakak sudah berani menyusuri sungai menggunakan ban sendiri, sementara adek saat itu masih dipangku. Kedua anak pemberaniku, semoga kedepan kalian semakin berani menerima tantangan dan berjuang melewati tantangan itu. 2025 baru dimulai dan kita memulainya dengan bersenang-senang.

Semoga sepanjang tahun ini, kita selalu berbahagia dan semakin berani menerima dan menyelesaikan tantangan apapun. Berani berkata iya untuk hal-hal yang dahulu kita tolak, berani menjadi versi terbaik diri kita, dan berjuang mewujudkan mimpi.

Sedayu, 2 Januari 2025